Palembang Sport City: Suara Sumsel Bedah Perawatan Stadion Pasca Event

Laporan mendalam dari Suara Sumsel mencoba membedah aspek yang jarang tersorot oleh publik, yakni manajemen dan Perawatan Stadion serta fasilitas pendukung lainnya. Banyak kota di dunia yang gagal mempertahankan fungsionalitas stadion mereka setelah event besar berakhir, yang kemudian dikenal dengan istilah “gajah putih”. Untuk menghindari nasib serupa, Palembang harus memiliki strategi yang sangat matang dalam pengelolaan aset. Stadion Gelora Sriwijaya dan berbagai venue lainnya membutuhkan biaya operasional yang sangat tinggi setiap bulannya, mulai dari pemeliharaan rumput standar FIFA, sistem kelistrikan, hingga kebersihan area tribun.

Dalam penelusurannya, Suara Sumsel menemukan bahwa kunci keberlanjutan Palembang Sport City terletak pada diversifikasi penggunaan lahan dan bangunan. Stadion dan area olahraga tidak boleh hanya digunakan untuk pertandingan atletik atau sepak bola semata. Upaya menjadikan kawasan ini sebagai pusat kegiatan masyarakat, mulai dari konser musik, festival budaya, hingga area rekreasi keluarga, menjadi langkah strategis untuk menutup biaya operasional. Masa Pasca Event adalah fase ujian yang sebenarnya bagi pemerintah daerah dan pengelola kawasan Jakabaring untuk membuktikan bahwa investasi besar ini memiliki dampak jangka panjang bagi ekonomi lokal.

Selain aspek bisnis, teknis Perawatan Stadion juga memerlukan tenaga ahli yang kompeten. Perawatan rumput lapangan utama, misalnya, membutuhkan perlakuan khusus mulai dari pemupukan, pemangkasan, hingga sistem drainase yang harus tetap berfungsi optimal agar tidak terjadi genangan saat hujan deras melanda Palembang. Jika pemeliharaan ini terabaikan sedikit saja, maka standar internasional yang telah diraih bisa merosot, dan federasi olahraga internasional tidak akan lagi melirik Palembang sebagai tuan rumah acara di masa depan. Oleh karena itu, konsistensi anggaran dan pengawasan menjadi hal yang mutlak diperlukan.

Narasi mengenai Palembang Sport City juga harus dibarengi dengan pelibatan masyarakat luas. Fasilitas olahraga yang ada harus tetap mudah diakses oleh warga lokal agar mereka merasa memiliki (sense of belonging) terhadap stadion tersebut. Dengan banyaknya aktivitas publik, pengawasan sosial pun akan berjalan secara alami. Suara Sumsel mencatat bahwa keberlanjutan kawasan ini juga bergantung pada prestasi atlet lokal. Fasilitas yang bagus harus menghasilkan bibit-bibit juara baru, sehingga fungsi utama stadion sebagai kawah candradimuka atlet tetap terjaga dan tidak sekadar menjadi monumen beton.