Kota Palembang, yang dikenal dengan julukan Venesia dari Timur, kini tengah berpacu dengan waktu dalam menghadapi ancaman tahunan yang selalu menghantui warganya. Masalah genangan air yang kerap melumpuhkan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat memicu pertanyaan besar di benak publik: mampukah visi Palembang Bebas Banjir benar-benar terwujud dalam waktu dekat? Sebagai kota yang secara geografis dibelah oleh Sungai Musi dan memiliki banyak daerah rawa, tantangan drainase di sini memang jauh lebih kompleks dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pemerintah kota bersama pihak terkait kini tengah menggencarkan pembangunan infrastruktur besar-besaran untuk menjawab kegelisahan tersebut.
Tim Suara Sumsel melakukan penelusuran lapangan untuk memantau secara langsung bagaimana perkembangan pengerjaan di beberapa titik krusial. Dalam upaya melakukan Cek Progress ini, kami menemukan bahwa fokus utama pembangunan saat ini terletak pada normalisasi sungai-sungai kecil dan optimalisasi kolam retensi yang tersebar di wilayah padat penduduk. Pembangunan stasiun pompa baru juga terlihat sedang dalam tahap penyelesaian akhir. Pompa-pompa ini diprediksi akan menjadi tulang punggung dalam menyedot debit air yang tinggi saat intensitas hujan meningkat tajam, sehingga air tidak lagi menggenang di pemukiman warga dalam waktu yang lama.
Keberadaan Mega Proyek ini tidak hanya melibatkan anggaran daerah, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat. Pengerjaan drainase terintegrasi yang mencakup rehabilitasi saluran air primer hingga sekunder menjadi prioritas utama. Selama ini, banyak saluran air di Palembang yang mengalami penyempitan akibat pembangunan gedung yang tidak tertata serta tumpukan sampah yang menyumbat aliran. Oleh karena itu, selain membangun fasilitas baru, proyek ini juga mencakup pembersihan total dan pengerukan sedimen lumpur yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun agar kapasitas tampung air kembali maksimal.
Namun, pembangunan infrastruktur fisik saja tentu tidak akan cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat. Masalah sampah tetap menjadi faktor utama yang sering kali membuat Drainase Kota gagal berfungsi optimal. Kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air harus terus ditingkatkan melalui edukasi yang masif. Suara Sumsel mencatat bahwa di beberapa area yang sudah selesai diperbaiki, tumpukan sampah rumah tangga masih sering ditemukan menyumbat mulut gorong-gorong. Sinergi antara pemerintah yang membangun fasilitas dan warga yang menjaga fasilitas tersebut adalah kunci mutlak keberhasilan proyek ini.
