Laporan Suara Sumsel: Efektivitas LRT Palembang dalam Mengurangi Kemacetan di Jam Sibuk 2026

Palembang telah mencatatkan sejarah sebagai kota pertama di Indonesia yang memiliki sistem kereta api ringan jauh sebelum ibu kota negara meresmikan hal serupa. Namun, pertanyaan mengenai manfaat jangka panjangnya selalu menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Memasuki tahun 2026, sebuah Laporan Suara Sumsel mencoba membedah secara objektif mengenai peran transportasi publik ini dalam dinamika mobilitas warga. Fokus utamanya adalah melihat sejauh mana efektivitas LRT Palembang telah berhasil mengubah pola perjalanan masyarakat, terutama ketika tekanan kendaraan pribadi di jalan raya semakin meningkat setiap tahunnya.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, jumlah penumpang LRT mengalami lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Integrasi moda transportasi yang semakin baik menjadi faktor pendorong utama. Warga kini tidak lagi merasa kesulitan untuk mencapai stasiun karena tersedianya angkot pengumpan (feeder) yang terkoneksi secara digital. Dalam konteks mengurangi kemacetan, keberadaan kereta ringan ini telah mengambil porsi yang cukup besar dari pengguna kendaraan roda dua dan roda empat yang biasanya memadati jembatan Ampera dan jalan-jalan protokol seperti Jalan Sudirman pada pagi dan sore hari.

Pada jam sibuk, waktu tempuh yang ditawarkan oleh LRT menjadi keunggulan yang tidak terbantahkan. Jika menggunakan kendaraan pribadi dari Bandara SMB II menuju Jakabaring bisa memakan waktu lebih dari satu jam akibat titik-titik kepadatan, dengan LRT waktu tersebut dapat dipangkas menjadi hanya 30 hingga 40 menit secara stabil. Laporan Suara Sumsel menemukan bahwa banyak aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta yang kini mulai meninggalkan mobil mereka di rumah dan memilih berlangganan kartu bulanan. Penghematan biaya bahan bakar dan tenaga ini menjadi alasan rasional yang membuat transportasi publik ini semakin dicintai.

Namun, untuk mencapai efektivitas LRT Palembang yang maksimal, masih ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan oleh pihak pengelola. Salah satunya adalah penambahan frekuensi perjalanan pada waktu-waktu padat agar tidak terjadi penumpukan penumpang di peron. Selain itu, peningkatan fasilitas di sekitar stasiun, seperti gedung parkir yang luas dan aman (park and ride), akan sangat membantu warga yang tinggal jauh dari jalur utama untuk tetap menggunakan kereta. Keamanan dan kenyamanan di dalam gerbong juga harus tetap dijaga pada standar tertinggi agar minat masyarakat tidak luntur seiring berjalannya waktu.